SPIRITUALITAS Lonceng Angelus

SPIRITUALITAS Lonceng Angelus (tahun Angelus – 1928-2018)

PENYEGARAN DAN REFLEKSI BERSAMA DEWAN INTI GEREJA PAROKI SANTA THERESIA LISIEUX BORO

(Dewan Harian, Pamomong Umat dan Koordinator Tim Kerja)

PPSM, 7-8 Juli 2018

 

01. Pamomong Umat (Dewan Paroki dan para Pemomong umat) adalah “angelus”

Gereja ialah “persekutuan orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing Roh Kudus dalam ziarah mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang” (GS. Art. 1). Semua dan setiap anggotanya dipanggil untuk memberi kesaksian tentang Yesus Kristus dan Injil-Nya, sesuai dengan kemampuan dan kedudukan masing-masing.

Gereja dipanggil menjadi “sakramen” atau tanda, yang menyatakan kepada masyarakat luas, bahwa Allah menghendaki keselamatan semua dan setiap orang. Ia hendak membangun KerajaanNya yang damai sejahtera di dunia ini, dan hendak mengantarnya kepada kepenuhannya pada akhir zaman. Merajanya Allah atas umat manusia ditandai cinta kasih dan persaudaraan sejati, keadilan dan kesejahteraan, dama semesta dan keutuhan alam ciptaan.

Kepemimpinan dalam umat merupakan pengambilan bagian dalam kepemimpinan tunggal yang dijalankan oleh Kristus dalam Roh Kudus. Sebab, Kristuslah Pemimpin yang mempersatukan seluruh jemaat (bdk. LG 9). Hirarki (para imam) dan Dewan Paroki pun, dalam menjalankan fungsi kepemimpinan, bertindak atas nama Kristus. Sesudang bangkit dari alam maut, Kristus bertanya tiga kali kepada Petrus, apakah ia mencintaiNya? Setelah Petrus menjawab tiga kali “ya”, Kristus setiap kali memberi perintah “Gembalakanlah domba-domba-Ku”. Masalah kepemimpinan dalam umat di lingkungan atau gereja paroki pada pokoknya menghadirkan kepemimpinan spiritual Yesus Kristus.

Dewan Paroki dan pamomong umat adalah suatu badan (paguyuban) di mana para gembala dan wakil umat bersama-sama memikirkan, memutuskan, dan melaksanakan apa yang perlu atau bermanfaat untuk mewartakan Sabda Tuhan, mengembangkan Rahmat Allah, dan membimbing umat supaya dapat menghayati, mengungkapkan, merayakan, dan mewujudkan iman.[1] Semantara itu dalam Kitab Hukum Kanonik, Kan. 536 §1 mengatakan bahwa: Jika menurut pandangan Uskup Diosesan setelah mendengarkan Dewan Imam, dianggap baik, maka hendaknya di setiap paroki didirikan dewan pastoral yang diketuai pastor paroki; dalam dewan pastoral itu, kaum beriman kristiani, bersama dengan mereka yang berdasarkan jabatannya mengambil bagian dalam reksa pastoral di paroki, hendaknya memberikan bantuannya untuk mengembangkan kegiatan pastoral.

Dengan demikian Dewan Paroki dan pamomong umat sebagai perawat jiwa (angelus) merupakan

a.       pencerminan fungsi dan dinamika pelayanan dan pengembangan seluruh umat sehingga semakin hidup dalam Kristus;

b.      pendukung dan mempermudah terwujudnya persekutuan jemaat beriman walau di dalamnya ada bermacam-macam tanggung jawab dan karisma anugrah Roh Kudus.

Definisi dari dewan paroki dan pamomong umat memberikan pengertian bahwa dewan paroki dan pamomong umat saling bersinergi erat dalam pelayanan di tengah Umat Allah setempat dan bukan di atasnya, yang merupakan kawanan domba milik Allah sendiri (bdk. Yoh 10:1-21). Dalam semangat itu, Dewan Paroki dan pamomong umat pertama-tama adalah sebuah bentuk persekutuan orang beriman yang di dalamnya orang-orang beriman tertentu (kaum awam) menerima tanggung-jawab pelayanan pastoral bersama dengan gembala mereka sebagai pemersatunya.

02.  Menggemakan Lonceng dan Doa Angelus dalam Program Pastoral 2018

Bermuara pada semangat mengapresiasi potensi pastoral berbasis lokalitas maka tahun Angelus ingin mengajak pamomong umat dan Dewan Paroki meneruskan jiwa serta semangat berubah, berbenah, berbuah dan bersukacitalah. Semangat dewan paroki dan pamomong umat di tahun 2018 adalah Boro: Peduli, Penuh Aksi dan Suci. Ketiga kata itu sebenarnya hadir atau muncul dari visi dasar Gereja Boro yaitu “….. menjadi komunitas pendoa, cinta kasih dan berbagi…”. Hidupnya komunitas-komunitas pendoa yang telah lama ditanam oleh Rm Prennthaler membuahkan kesucian umat beriman di Paroki Boro. Tumbuh dan bermekarannya komunitas cinta kasih dan berbagi membuahkan semangat peduli bagi sesama. Dan akhirnya, semua komunitas itu bersatu untuk menghadirkan wajah Allah dalam aksi nyata.

Gereja Boro Peduli, Penuh Aksi dan Suci, merupakan cita-cita bersama dari Rm. Prennthaler yang telah menanam benih-benih kasih dalam paguyuban-paguyuban murid Kristus. Selain itu, hasil studi para Uskup bulan November 2017 mengatakan bahwa “Gereja perlu berjerih payah dan bekerja keras dengan semua yang berkehendak baik, serta mengoptimalkan potensinya sendiri untuk berkiprah dan terlibat di banyak bidang dan lembaga-lembaga publik. Gereja dalam sejarahnya dikenal karena memberi kontribusi besar bagi bangsa dan negara Indonesia di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial-karitatif.

Mengupayakan pemurnian dan optimalisasi tugas Gereja menyucikan dunia melalui perjuangan perwujudan nilai-nilai Pancasila, dengan demikian Gereja akan tetap relevan dan signifikan bagi dunia, khususnya Indonesia.. Menyucikan dunia berarti menjadikannya selaras kehendak Bapa, maka di sini seruan Evangelii Gaudium mendekati kenyataan, menjadi “Gereja yang memar, terluka dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan, bukan Gereja yang menutup diri dalam kenyamanannya sendiri” (bdk. EG 49). Lorong kemartiran mungkin mesti dilalui.

Dari catatan studi tersebut, kita semakin didorong untuk menghadirkan Gereja Paroki Boro yang Peduli, Penuh Aksi dan Suci di jaman sekarang ini. Maka, Dewan Paroki dan Pamomong Umat perlu bersinergi dan berpastoral bersama dalam menghadirkan semangat itu di sepanjang Tahun Angelus (2018).

 

Semoga dentangnya Lonceng Angelus bergema dan menggetarkan nyali iman untuk tetap bersemangatkan berbenah, berubah, berbuah dan bersukacitalah dalam menghadirkan Gereja Boro : Peduli, Penuh Aksi dan Suci. Sehingga dengan demikian, cita-cita arah dasar KAS 2016-2020 dalam mewujudkan diri sebagai Gereja yang merengkuh dan bekerja sama dengan semua orang (inklusif), terus menerus membarui diri (inovatif), dan berdaya ubah (transformatif) sungguh hadir di Gereja Boro.

Akhirnya, Allah yang memulai pekerjaan baik diantara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6)

 

Berkah Dalem,

Boro, 01 Juli 2018

Rm. Alip pr

 

[1] Pedoman Dasar Dewan Paroki KAS 2013