Pojok Rohani Rabu, 22 Juli 2020

 Pendosa yang Menggapai Cinta-Nya

Pojok Rohani Rabu, 22 Juli 2020

 

 

Bapak Ibu, saudara-saudari dan anak-anak yang terberkati oleh Tuhan Yesus, Berkah Dalem.

Dalam sejarah iman Gereja Katolik, belum pernah dikisahkan mengenai orang kudus yang luput dari dosa, siksaan dan penderitaan, hinaan ataupun penganiayaan baik secara fisik maupun mental.

Orang Kudus pun merupakan manusia biasa yang juga seperti kita semua. Dengan demikian jatuh dalam dosa merupakan pengalaman manusiawi yang dialami oleh setiap manusia. Meskipun menjadi pendosa, akan tetapi satu point yang bisa kita teladani dan penting untuk kita usahakan terus-menerus yakni sikap mereka untuk menaklukkan diri dan senantiasa sadar untuk kembali ke pangkuan Allah dengan membangun hidup pertobatan.

            Saudara-saudari yang terkasih, hari ini bersama Gereja semesta kita mengenang orang kudus yakni Snt. Maria Magdalena. Siapa yang tidak mengenal cerita kehidupannya? Dalam Kitab Suci dikisahkan bahwa Maria Magdalena awalnya adalah seorang pendosa yang pernah dirasuki oleh ketujuh roh jahat. Akan tetapi di mata Kristus, Maria Magdalena adalah pribadi yang begitu istimewa. Keistimewaan dari Maria Magdalena tampak dalam pengalaman pribadinya yang berjumpa dengan Yesus untuk pertama kali setelah Dia bangkit dari alam maut. Maria Magdalena meleburkan dirinya dalam cinta Kristus dengan mengasihi Kristus secara radikal. Hal ini tercatat pada peristiwa Paskah, di mana ia menjadi bagian dari saksi kebangkitan Kristus. Pagi-pagi bersama beberapa perempuan yang lainnya, Maria Magdalena mengunjungi makam Yesus untuk merawat jenasah Yesus. Akan tetapi yang mereka jumpai ialah makam kosong.

Saudara dan saudari yang terkasih, pengalaman iman Snt. Maria Magdalena mengukir di hati kita bahwa Allah adalah Allah yang maha kasih. Allah Maharahim yang tidak pernah memperhitungkan dosa kita. Allah yang selalu menanti-nantikan kehadiran anak-anaknya untuk kembali pulang pada-Nya. Meski demikian, tidak mudah bagi kita untuk dengan cepat bergegas kembali pada-Nya. Seringkali kita masih mudah mengulur waktu dan lebih mementingkan diri sendiri. Marilah kita belajar dari Snt. Maria Magdalena yang menyadari dirinya sebagai pendosa. Di samping itu Snt. Maria Magdalena senantiasa merindukan pembebasan sekaligus percaya bahwa Allah tidak pernah mengingat pada pengalaman masa lalu kita yang kelam. Allah hanya rindu mengasihi kita dan mengundang kita untuk mewartakan Injil-Nya. Semoga dengan kerinduan iman inilah, kita semakin terdorong untuk senantiasa tidak menunda waktu untuk kembali kepada Yesus yang senantiasa menantikan kita untuk pulang kembali, menggapai Cinta-Nya yang selalu luar biasa. Berkah Dalem

 

 

Sr. M. Pasifica, OSF