Pojok Rohani Selasa, 14 Juli 2020

Bentuk Cinta-Nya Bagi Kita

Pojok Rohani Selasa, 14 Juli 2020

 

Bapa ibu saudara/saudari yg dicintai Tuhan, selamat pagi.

Tidak ada manusia yang hidup seorang diri saja di dunia ini. Kita pasti memiliki orang tua, kakak adik, sahabat, rekan kerja, tetangga, atau siapapun yang ada di sekitar kita. Dalam relasi tersebut ada yang sifatnya didasarkan pada kedekatan khusus baik berupa hubungan kekeluargaan ataupun sekedar persahabatan saja. Yang jelas, hidup kita tidak akan pernah sendirian karena masih ada orang-orang di sekitar kita yang akan menyertai setiap langkah perjalanan kita.

Seseorang akan menyebut orang lain dengan sapaan, “engkau sahabatku, atau engkau orang yang baik, ataupun dia keluargaku”, karena kualitas relasional yang dibangun di dalamnya. Artinya dalam relasi tersebut terkandung suatu pengalaman cinta. Rasa cinta itulah yang menyebabkan kita untuk dapat menghargai bahkan mendukung kehadiran mereka semua di dalam hidup kita.  Cinta terhadap orang tua, saudara, sahabat, bahkan pada mereka yang kadangkala tidak sependapat dengan kita. Ekspresi cinta itu bermacam-macam. Bagi kita pun cara untuk mengeskpresikannya pun juga dapat sesuai dengan kreatifitas kita masing-masing.

Hari ini gereja mengajak kita untuk membaca, mendengarkan, dan merenungkan sabda Tuhan yang berasal dari Injil Matius 11:20-24 yang mengisahkan dimana Yesus mengecam kota-kota yang tidak bertobat. Padahal kota-kota yang disebutkan oleh Yesus dalam Injil hari ini, merupakan kota yang menjadi tempat Yesus untuk membuat mukjizat-mukjizat. “Celakalah engkau Khorazim, celakalah engkau Betsaida.” Kecaman Yesus ini terdengar keras dan menakutkan. Akan tetapi hal tersebut merupakan bentuk cinta Yesus terhadap umatNya. Segala macam cara dilakukan Yesus agar umatNya bertobat dan hidup dalam kebenaran Iman. Pada kota-kota yang dikecam-Nya itu, Ia melakukan paling banyak mujikzat. Tujuannya apa? Supaya mata hati umatNya terbuka pada jalan kebenaran dan mau mengikuti jalan tersebut. Mukjizat pertama dilakukan Yesus dengan harapan agar umat-Nya menjadi sadar dan mulai berubah. Ketika apa yang dilakukan oleh Yesus ternyata belum membuahkan hasil yang optimal, Ia masih memberikan kesempatan kepada orang-orang Israel. Akan tetapi, mukjizat-mukjizat yang diperbuat Yesus tidak mampu untuk membawa perubahan dalam diri umat Israel. Meskipun demikian, Yesus tidak lantas berhenti dengan ungkapan yang seringkali muncul dalam diri kita. Yesus tidak akan berkata, “Ah sudahlah. Biar saja mereka hidup dalam kegelapan dosa. Bukan salahku jika mereka jatuh. Kan Aku sudah berbuah banyak kebaikan bagi mereka. Aku sudah lelah.” Tidak. Tuhan tidak berhenti disitu. Tuhan tidak lelah untuk mencintai. Ia terus mencintai umat-Nya. Ia ingin kita bertobat dan kembali pada jalan kebenaran.

Bapa, Ibu, Saudara-saudari terkasih, marilah kita menyadari bentuk cinta Tuhan dalam hidup kita. Mukjizat-Nya, yang kita terima setiap hari yang berupa: matahari yang menyinari bumi, aneka pepohonan, keberadaan orang-orang di sekitar kita dan berbagai pengalaman yang kita alami merupakan cinta Tuhan kepada kita. Semoga kesadaran iman ini menyentuh hati kita dan menghantar kita pada jalan pertobatan.

 

Sr. M. Amanda, OSF