Di Puncak Menoreh tepatnya di Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo pada hari  Kamis tanggal 29 Maret 2018 terjadi sebuah aksi spontanitas yang luar biasa.

     Sejumlah pemuda yang sebagian besar muslim secara sukarela mengadakan kegiatan berkeliling kampung untuk secara khusus  menjaga rumah-rumah warga yang beragama Katholik yang kosong, karena  sedang ditinggal mengikuti Perayaan Misa Kamis Putih di Gereja yang berlangsung dari petang hingga tengah malam. Aksi menjaga keamanan itu muncul secara spontan dan menyebar di hampir seluruh Pedukuhan yang ada umat Katholiknya.   

    Aksi itu bukan  karena sedang ada suasana genting. Tapi sebuah tindakan antisipasi sabagai perwujudan empati sosial dan toleransi yang keluar dari nurani para kaum muda itu. Panggilan jiwa untuk saling menjaga dan saling melindungi  terhadap sesama anak bangsa. Pada kontek ini perbedaan menjadi luar biasa indahnya. Energi persaudaraan yang menjadi "nafas asli" Nusantara, yaitu nafas parsaudaraan sejati masih terpatri sangat kuat sehingga terekspresikan dalam sebuah aksi yang berbasis "tautan hati".  Sebuah ekspresi dan perwujudan spiritualitas hidup tingkat tinggi. Melayani yang membutuhkan pelayanan, membantu yang membutuhkan bantuan serta melindungi yang membutuhkan perlindungan. Sebuah gerakan berbasis ketulusan yang luar biasa indah dan menenteramkan.

(bahan permenungan, cepet sbw @ lereng menoreh)

share via whatsapp oleh Y Haryanto

PEMBERKATAN: Mgr Rubiyatmoko memberkati Taman Doa Bunda Maria Pelindung Keluarga (Foto: Andreas BDG)
 
 

Umat Paroki Santa Theresia Lisieux Boro, akhirnya memiliki taman doa. Taman doa dengan nama Bunda Maria Pelindung Keluarga ini secara simbolis diresmikan oleh Mgr Robertus Rubiyatmoko bersama Bupata Kulon Progo Drs H Hasto Wardoyo, usai perayaan Ekaristi, Minggu (7/1).

Page 3 of 3